Website Resmi SMA Santa Lusia Bekasi

Sebuah Kebohongan Di Bulan Oktober

By. Lilis Silaen

Ini adalah kisahku. Kisah sebuah kebohongan yang telah kubuat. Dan juga Aku lakukan kepada orang yang kucintai.

Jumat , 23 Oktober 2020

Hari ini musim hujan  di Bekasi . Hari dimana Aku bisa menghabiskan liburanku dengan pergi berkunjung ke rumah teman. Aku memasuki mobil milik tukang angkutan umum. Namaku adalah Yeskatolika, seorang guru. Aku juga tak lupa membawa pulpen dan buku  kesayanganku. Dimana ia menjadi sahabat yang menemaniku di kota ini. Karena sejujurnya Aku tidak mempunyai kehidupan yang indah di kota ini.

 

Angin sejuk menambah suasana hatiku memulai lamunanku yang semakin tidak menentu. Ditambah  suasana hening di kereta api yang membuat khayalanku semakin tinggi di sepanjang perjalanan, seolah-olah aku tertidur di sofa milik kerajaan. Setelah sekian lama berada di kereta api , saya akhirnya sampai  juga di tempat tujuan. Dan saya memasuki rumah temanku.

“Yeska, . Silahkan masuk beib.” ucap temanku

Aku kemudian masuk. Dan saat Aku hendak duduk tanpa sengaja Aku bertabrakan dengan seorang laki-laki berkacamata.

“Aduhhh!” Ucapnya

“Ma…maaf ini kacamatamu.” kataku mengulurkan kacamatanya yang terjatuh

“Terima kasih ya.” ucapnya

“Tidak! Seharusnya Aku yang minta maaf” balasku ramah

Kami berdua kemudian kembali duduk. Dan tiba tiba temanku datang dan mengenalkan dia padaku.

“Yeska, apakah kamu mengenal dia? Dia adalah abangku yang dulu tinggal disebelah kontrakan mu di Medan” katanya mengingatkanku

“Fernand?” tanyaku padanya.

“Iya ini Aku. Sekarang apakah kamu mengingatku?” tanyanya.

“Tentu saja Aku ingat.” Jawabku tegas

“Wah..syukurlah kalian tidak lupa satu sama lain.” Kata temanku

Sore harinya Aku duduk di tepi sungai dekat rumah temanku sambil menulis buku harianku. Tiba-tiba terdengar jejak kaki dari belakang ku

“Dorrrr” teriak Fernand

“Astaga Fernand… Kau hampir membuatku terkena serangan jantung.” Ujarku

“Hehehehe…

sedang apa kamu disini?” tanya Fernand

“Menikmati sore yang sejuk sambil menulis materi untuk siswa kesayanganku” jawabku

“Kamu jago juga mencari inspirasi . Tadi Aku sekilas melihat mu begitu serius” puji Fernand

“Serius?? Wah terimakasih” Jawabku gembira

“Kamu bisa main alat musik kan?” tanyaku

“Hanya sedikit bisa memainkan gitar” Jawabnya

“Kamu bisa memainkan gitar ? Aku selalu ingin berduet dengan seorang laki-laki yang pintar main gitar” Tanya ku.

“Kamu mau berduet? Mari kita cari waktu untuk berduet.” Jawab Fernand

“Okieeeee” Jawabku senang

“Oh iya besok pagi mau kekontrakanku  tidak?” ajak Fernand

“Mau ngapain?” tanyaku

“Sekedar berkunjung saja. Toh kamu juga kenal dengan tanteku.” Kata Fernand

“Baiklah besok Aku akan kekontrakan mu.” Jawabku

Aku pun kembali kerumah temanku dan beristirahat. Keesokan paginya, Aku pergi ke rumah kontrakan Fernand sambil membawa kue lapis yang  ku beli disekitar perjalanan menuju Depok.

“Fernand …” teriakku kencang

“Iyaaaa sebentar. Siapa yaa?” Jawab seorang perempuan dari dalam kontrakan

“Tante ini Aku temannya Fernand” jawabku

*(Krekkkkk* suara pintu pagar yang dibuka)

“Yeska siapa” teriak perempuan sebaya dengan ibuku. Aku menunduk sebagai tanda memberikan hormat kepadanya. Ternyata pemilik rumah yang merupakan tante dari Fernand. Perempuan yang yang kenal pada waktu saya duduk dibangku SMP. Waktu itu sering mengajari aku dalam pembelajaran matematika di kampung.

“Wow Siapa ini?” tanya tante Elma

“ ini aku tante, Yeska teman fernand  dan  anak les tante waktu dulu di kampung

“Ini kue lapis saya bawa , tante.” Jawabku

“Terimakasih ya, Silakan  masuk.” Kata Tante Elma

“Iya tante sama-sama” jawabku

“Silahkan duduk saja. Tidak usah sungkan ya” Kata Tante Elma

“Baik tante.” Jawabku

“Silahkan duduk disana. Tante akan membuatkan minum untukmu” kata Tante Elma  sambil menunjuk sebuah sofa besar yang terletak di ruang tamu.

“Baiklah Tante” jawabku

Saat hendak duduk, Aku mendengar suara gitar yang sangat lembut. Aliran nadanya benar-benar membuat suasana dirumah itu tenang dan damai. Aku bisa merasakan perasaan sang gitaris yang tersampaikan secara jelas walau hanya mendengar suara gitarnya. Aku penasaran dan mencari sumber suara gitar tersebut. Sampai akhirnya suara tersebut menuntunku menuju sebuah kamar yang pintunya tidak tertutup rapat. Didalam kamar itu ada seorang laki-laki yang duduk dan sangat menghayati permainan gitarnya. Tanganya bermain dengan indahnya. Bunyi setiap petikannya menggema ke seluruh ruangan. Bunyi tersebut membuat hatiku tersentuh. Seolah-olah memenangkan kontes terbesar di sejagat raya. Barang-barang yang mengisi rumah itu seolah-olah ikut mengikuti alunan petikan gitar itu. Aku terpana melihat dan mendengarnya. Aku ingin bermain gitar dengannya. Tanpa sadar Aku meneteskan air mata. Tiba-tiba tante Elma menghampiriku.

“Dia memang sangat berbakat memainkan Gitar. Sejak kecil, gitar telah menjadi bagian dari dirinya.” Ujar tante Elma

“Aku bisa merasakannya tante. Setiap petikan yang ditekannya benar-benar membuatku luluh.” Jawabku

Tante Elma mengetuk pintu kamar Fernand, dan sejenak permainan  gitarnya pun berhenti.

“Ada apa tan?” Tanya Fernand

“Yeska sudah datang nih.” Kata tante

“Oh iya sebentar Tan” ujar Fernand

“Mari Yes, kita duluan ke ruang tamu” ajak tante Elma

“Ayuk tante”

Tak lama kemudian Fernand datang keruang tamu dan duduk disebelahku.

“Yeska Kau dan Fernand, kalian disini dulu ya ,tante ada urusan sebentar keluar.” Ujar tante Elma.

“Baiklah tante.” Jawabku

“Kamu sangat mahir memainkan gitar. Kamu sangat tenang saat memainkannya. Permainanmu luar biasa, nan” Ujarku

“Sungguh?” Kata Fernand

“Ya tentu saja” Jawabku

“Semalam kamu mengajakku untuk berduet kan?” tanya Fernand

“Iya Aku sempat mengajakmu.” Jawabku

“Aku mendapat sebuah undangan . Maukah kamu berduet denganku diacara itu?” ajak Fernand

“Acara apa?” tanyaku

“Acara pernikahan temanku yang diadakan di Gedung Serbaguna Poli.

“Wahhhh sepertinya seru. Aku mau.” Jawabku girang

“Serius kamu mau?.” Kata Fernand

“Iya Aku serius.” Jawabku tegas

“Janji yaaa?” Kata Fernand

“Iya janji.” Jawabku

Tak lama kemudian tante Elma  kembali kerumah dan kami bertiga pun berbincang-bincang. Tak terasa matahari pun sudah kembali bersembunyi. Aku  berpamitan dengan tante Elma  dan Fernand untuk kembali kerumah temanku. Sesampainya dirumah, Aku beres-beres lalu bersiap untuk tidur. Saat tengah malam, Aku merasakan sakit luar biasa di dada ku. Aku ingin berteriak dan memanggil temanku, namun tak bisa. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba pandanganku perlahan meredup dan Aku tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, Aku tersadar dari pingsanku dan Aku sudah berada di sebuah ruangan yang berdinding putih dengan cairan infus yang menggantung tepat disampingku. Pikiranku masih kacau. Aku masih belum bisa berpikir dengan jernih, namun Aku bisa mendengar suara tangisan dari luar ruangan. Suaranya seperti temanku. Suara tangisannya benar-benar histeris namun Aku masih belum tau pasti siapa sebenarnya perempuan yang senang menangis itu. Apakah ia adalah Putri ? Atau orang lain?

Beberapa saat kemudian, Putri masuk keruangan dengan sedikit air mata yang masih tersisa dipipinya. Aku sudah bisa memastikan bahwa orang yang menangis diluar ruanganku adalah Putri. Namun, Aku masih belum tahu apa penyebabnya. Putri menghampiriku dan langsung memeluk badanku yang masih sangat lemas tak bertenaga.

“Put kenapa Put?” tanyaku heran

“Yeska… Sahabatku… kamu ini teman yang baik..” kata Putri

Aku sangat heran dengan perkataan Putri itu. Belum sempat Aku bertanya kepada Putri, rasa sakit yang hebat kembali muncul di dalam dadaku. Beberapa saat kemudian. Aku pun kembali tak sadarkan diri. 3 jam kemudian, Aku kembali siuman dan seorang dokter mengatakan kepadaku bahwa ,Aku menderita kanker hati stadium 4 yang sudah hampir menyebar ke organ tubuhku yang lainnya. Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan sang dokter. Putri yang duduk sampingku terlihat sangat lemas dan pucat mendengarnya.

Aku sadar kesempatan bertahan hidup untukku sangatlah sedikit bahkan sudah tidak ada. Aku tahu perasaan Putri saat mendengar bahwa Aku mengidap kanker.

“Putri…” panggilku halus

“Iya Yeska……” jawab Putri sambil menahan air matanya

“Putri sudah tahu akan hal ini ya?” tanyaku.

Putri hanya bisa terdiam dan membuang pandangannya dariku.

“Putri… Aku tidak mau ada orang lain yang tahu mengenai hal ini Putri. Terutama tante Elma dan Fernand.” Pintaku, lagi-lagi Putri hanya bisa terdiam dan menangis.

Aku merasa kalau Aku tidak bisa bertahan lagi. Aku hanya mempunyai satu permintaan sebelum Aku meninggalkan dunia ini.

“Put… besok akan ada acara pernikahan teman Fernand. Aku sudah berjanji akan tampil bersama Fernand  diacara itu. Aku mohon Putri… berikan Aku kesempatan terakhir untuk bisa bernyanyi dengan abangmu  orang yang kusuka sekian lama.” Pintaku

“Baiklah jika itu maumu…” jawab Putri dengan nada lesu.

Aku tahu Putri berkata seperti itu karena memang, Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.  Tetapi, Aku tidak boleh menyerah. Aku ingin menepati janji yang telah kubuat. Sebuah impian yang telah lama kutunggu yang akan menjadi sebuah kenyataan. Bermain gitar sambil menyanyi. Malam hari, Aku dipulangkan kembali kerumah

Putri dan Aku mempersiapkan segala hal untuk besok. Yang mungkin saja akan menjadi hari yang paling berbahagia dalam hidupku. Aku berlatih bernyanyi beberapa saat bersama Putri. Meski Aku belum pernah berduet dengan Fernand, namun Aku sangat yakin kalau penampilanku besok akan sangat memuaskan.

Keesokan harinya, Aku terus-terusan ditelpon oleh Fernand

“Heiii kamu jadi datang tidak?” tanya Fernand lewat telepon

“Tunggu sebentar. Aku akan segera sampai disana.” Jawabku

Sesampainya disana, Aku melihat ribuan orang di depan pintu masuk yang sedang mengantri untuk  memasuki Gedung pernikahan . Aku buru-buru menuju ruang persiapan dibelakang panggung pernikahan dan disana sudah ada seseorang menunggu.

”Kamu sudah datang” Kata Fernand

“Iya Aku datang…untuk menepati janjiku padamu…”

Fernand menggenggam tanganku dan kami berdua berjalan menuju belakang panggung. Kami bersiap-siap untuk menyumbangkan lagu untuk pengantin. Kami berdua sangat percaya diri. Kami berdua akan melakukannya tanpa beban apapun. Aku belum menceritakan penyakitku kepada Fernand. Tujuanku hanyalah ingin bernyanyi dengannya.

Fernand dan Aku bernyanyi dengan sangat bagus. Aku bisa merasakannya. Bahkan Aku bisa menebak kalau semua yang hadir dalam pesta pernikahan itu menikmati suara dan alunan gitarnya.

“ya… inilah yang Aku impikan…inilah keinginanku…sudah tercapai… Aku sudah bisa pergi dengan tenang sekarang…” ucapku dalam hati

Fernand Munsen

Saat Aku sedang bermain mengiringi suara suara Yeska, tiba-tiba..

*Gubrakkkkk*

“Yeska…” teriakku

“Kau kenapa Yeska?” tanyaku kepadanya

Dia tak sadarkan diri dan tim medis langsung membawanya menuju rumah sakit. Aku langsung bergegas ikut kerumah sakit bersama Tante Elma dan Putri.

“Dok, apa yang terjadi dengan Yeska dok?” tanya tante Elma kepada dokter

“Nyawa Yeska sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” Kata dokter

Putri hanya bisa terdiam dan menangis terseduh-seduh.

“Kanker yang dideritanya sudah menyebar hingga ke organ tubuhnya yang lain” Ucap sang dokter.

“Kanker? Kanker apa yang dokter maksud?” Tanyaku

“Sebenarnya Yeska menderita kanker hati stadium 4. Kemarin dia sudah dirawat disini namun dia bersikeras untuk pulang kerumah.” Ujar Dokter

Aku, Putri dan Tante Elma hanya bisa terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Perasaanku bercampur aduk. Tak lama kemudian, Putri menghampiriku dan memberikanku sebuah surat.

Teruntuk Fernand Munsen

Terimakasih atas permaiananmu waktu itu.. itu sangat membuatku bahagia.

Kau sangatlah baik dan lugu. Itulah yang Aku suka darimu. Aku tahu hidupku sudah tak lama lagi namun ,

Aku ingin mengakhirinya dengan hal-hal yang indah.

Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu.

Maafkan kebohonganku.

Aku tidak akan mengatakan tentang penyakitku ini.

Mungkin saat Kau membaca surat ini, Aku sudah tidak berada di dunia ini lagi.

Namun,

Aku pasti sudah merasa puas dan bahagia karna besok, Aku akan berduet dengamu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Jika diberi waktu lebih lama. Maafkan kebohongan yang telah kuperbuat..

Yeskatolika.

Sejenak Aku meneteskan air mata. Aku sungguh bodoh. Jika Aku tidak membuat janji itu dengannya, mungkin saat ini, Aku masih bisa melihatnya. Aku juga mencintainya. Aku belum sempat jujur kepadanya. Jika Aku tahu akan penyakitnya ini Aku akan lebih memilih merawatnya daripada berduet denganya.

Untuk Lys

Kenapa kamu melakukan semua kebohongan ini?

Mengapa kamu tidak jujur saja kepadaku tentang penyakitmu ini?

Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu.

Kenapa kamu pergi secepat ini?

Aku bahkan belum menyampaikan perasaanku kepadamu.

Semoga kamu bahagia dan tenang disana.

I love you.

              Fernand Munsen

Share this 

Facebook 0
WhatsApp
Twitter
Google+ 0
Email

Tinggalkan komentar